Logo

Tujuh Pilar Eko Masjid: Ketika Rumah Ibadah Menjadi Laboratorium Peradaban Hijau

01 Agustus 2026 29 Dilihat
Tujuh Pilar Eko Masjid: Ketika Rumah Ibadah Menjadi Laboratorium Peradaban Hijau

Bagi sebagian orang, keberhasilan Gerakan Sedekah Sampah sudah cukup menjelaskan mengapa Ananto Isworo menerima Kalpataru Tahun 2026. Namun, bagi Ananto, Sedekah Sampah hanyalah pintu masuk menuju gagasan yang lebih besar, yaitu Eko Masjid. Ia meyakini bahwa rumah ibadah tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga membangun hubungan yang harmonis dengan sesama (hablum minannas) dan dengan alam sebagai ciptaan Tuhan. Ketiga relasi itu tidak dapat dipisahkan karena keimanan sejati selalu tercermin dalam cara manusia memperlakukan kehidupan di sekitarnya.

"Masjid harus menjadi tempat lahirnya peradaban yang menghormati kehidupan," ujarnya.

Keyakinan tersebut diwujudkan melalui tujuh pilar yang saling terhubung menjadi satu ekosistem yang memadukan ibadah, kepedulian sosial, dan pelestarian lingkungan.

Pilar pertama dimulai dari bangunan masjid itu sendiri. Ketika banyak rumah ibadah mengandalkan pendingin udara dan pencahayaan buatan, Masjid Al-Muharram dirancang untuk memaksimalkan cahaya matahari dan sirkulasi udara alami. Bukaan yang lebar membuat ruangan tetap sejuk tanpa bergantung pada pendingin udara.

"Kalau alam sudah menyediakan cahaya dan angin secara gratis, mengapa kita tidak memanfaatkannya?" kata Ananto.

Baginya, arsitektur bukan sekadar soal estetika atau efisiensi energi, tetapi juga wujud syukur yang mampu mengurangi pemborosan listrik dan emisi karbon. Di Masjid Al-Muharram, teknologi tidak ditempatkan untuk mengalahkan alam, melainkan bekerja selaras dengannya.

Semangat yang sama tampak pada pilar kedua, yaitu penghijauan. Pepohonan yang tumbuh di sekitar masjid bukan sekadar peneduh, melainkan bagian dari sistem kehidupan. Ananto bahkan pernah menghitung secara sederhana kebutuhan oksigen jamaah, lalu memperkirakan jumlah pohon yang diperlukan untuk memenuhinya.

"Kalau kita menikmati oksigen secara gratis setiap hari, bukankah sudah seharusnya kita juga menanam pohon sebagai bentuk rasa syukur?" ujarnya.

Baginya, setiap pohon adalah "jamaah diam" yang terus melayani manusia dengan menghasilkan oksigen, menyerap karbon, menurunkan suhu, dan menjaga keberlangsungan kehidupan.

Pilar ketiga berkaitan dengan pengelolaan air hujan. Ananto memandang banjir bukan sekadar persoalan tata ruang, tetapi juga persoalan moral. Ketika air hujan yang seharusnya meresap ke tanah justru dibuang hingga menimbulkan banjir di tempat lain, manusia sedang mewariskan dampak buruk kepada sesamanya.

Karena itu, Masjid Al-Muharram membangun sumur resapan agar air hujan dipanen, disimpan, dan dikembalikan ke dalam tanah sebagai cadangan air. Gerakan tersebut kemudian menginspirasi warga Brajan membangun ratusan sumur resapan secara swadaya.

"Air hujan adalah rahmat Tuhan. Rahmat tidak boleh kita sia-siakan."

Pilar keempat adalah Gerakan Sedekah Sampah yang telah dikenal luas hingga tingkat nasional. Dalam konsep Eko Masjid, Sedekah Sampah bukan sekadar mengumpulkan barang bekas, melainkan membangun budaya bertanggung jawab atas sampah sekaligus budaya berbagi kepada sesama. Untuk mendorong perubahan perilaku, Ananto merancang keranjang Sedekah Sampah dengan bentuk-bentuk kreatif sehingga masyarakat terdorong membuang sampah pada tempatnya tanpa harus selalu diingatkan.

Baginya, perubahan besar tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Pilar kelima menghadirkan Masjid Ramah Anak. Di tengah banyaknya larangan bagi anak-anak di rumah ibadah, Ananto justru membuka ruang bagi mereka untuk belajar, bermain, berkegiatan, bahkan bermalam dengan pendampingan orang dewasa.

"Kalau anak-anak dijauhkan dari masjid sejak kecil, bagaimana mungkin mereka akan mencintai masjid ketika dewasa?" katanya.

Masjid pun menjadi rumah kedua yang menghadirkan pengalaman religius yang hangat dan menyenangkan.

Kepedulian itu dilanjutkan melalui pilar keenam, Masjid Ramah Difabel. Jalur kursi roda dibangun, akses menuju ruang ibadah diperbaiki, dan informasi mengenai fasilitas tersebut dipublikasikan melalui berbagai platform digital. Bahkan, Ananto aktif sebagai Google Local Guide untuk menambahkan informasi aksesibilitas berbagai rumah ibadah dan fasilitas publik.

Baginya, rumah ibadah yang ramah lingkungan harus sekaligus ramah terhadap semua orang, terutama mereka yang selama ini menghadapi hambatan untuk memperoleh akses yang setara.

Pilar ketujuh diwujudkan melalui pemanfaatan energi matahari. Pada 2023, panel surya mulai terpasang di Masjid Al-Muharram melalui kolaborasi berbagai komunitas. Langkah itu bukan sekadar mengganti sumber listrik, tetapi menjadi simbol bahwa rumah ibadah juga memiliki tanggung jawab dalam menghadapi krisis iklim global.

Jika ketujuh pilar tersebut dipandang sebagai satu kesatuan, tampak jelas bahwa Ananto tidak sedang membangun proyek lingkungan, melainkan menawarkan cara hidup baru. Dalam cara hidup itu, sampah tidak dipisahkan dari ibadah, pohon tidak dipisahkan dari dakwah, air hujan tidak dipisahkan dari rasa syukur, dan energi matahari tidak dipisahkan dari amanah menjaga bumi. Rumah ibadah pun berkembang menjadi pusat pendidikan, laboratorium sosial, ruang inovasi lingkungan, sekaligus pusat filantropi yang menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan alam.

Di situlah kekuatan Eko Masjid. Ananto tidak menciptakan ajaran baru, juga tidak mengubah substansi agama. Ia hanya mengembalikan rumah ibadah kepada salah satu pesan dasarnya: menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Ketika nilai itu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat beribadah, tetapi juga ruang lahirnya peradaban hijau yang memuliakan manusia, menjaga bumi, dan menumbuhkan harapan bagi generasi yang akan datang.

Yogyakarta, 1 Agustus 2026

Penulis: Yustinus Ade Stirman, Danang Budi Santoso, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image