Logo

Tobat Ekologis: Pendekatan Ekoteologi untuk Menyelamatkan Bumi menjadi Perjalanan Spiritual Bangsa

12 Juni 2026 1.080 Dilihat
Tobat Ekologis: Pendekatan Ekoteologi untuk Menyelamatkan Bumi menjadi Perjalanan Spiritual Bangsa

Di pagi yang kian hangat akibat perubahan iklim, ketika sungai membawa lebih banyak sampah daripada ikan dan hutan kehilangan sebagian keheningannya, Indonesia menghadapi sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana manusia harus memperlakukan bumi yang selama ini menopang kehidupannya?

Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026, Menteri Lingkungan Hidup / Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh. Jumhur Hidayat mengajak seluruh elemen bangsa melakukan Pertobatan Ekologis—sebuah seruan yang melampaui kebijakan teknis dan menyentuh dimensi terdalam kesadaran manusia. Ajakan tersebut lahir dari kenyataan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tiga krisis lingkungan global (triple planetary crisis) yang saling terkait: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

Bagi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Tobat Ekologis bukan sekadar slogan, namun merupakan panggilan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam yang selama beberapa dekade mengalami ketidakseimbangan.

Seperti makhluk hidup yang terluka akibat perlakuan yang salah, bumi memberi tanda-tandanya. Banjir datang lebih sering, suhu udara terus meningkat, kualitas air menurun, dan ruang hidup berbagai spesies semakin menyempit. Krisis lingkungan yang kita saksikan hari ini sesungguhnya adalah cermin dari cara manusia memandang alam: bukan sebagai rumah bersama, melainkan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas.

Dalam khazanah spiritual, kata tobat berarti kembali. Kembali kepada kesadaran, kembali kepada tanggung jawab, dan kembali kepada jalan yang benar setelah menyadari kesalahan. Ketika dipadukan dengan kata ekologis, maknanya menjadi semakin mendalam: sebuah ajakan untuk kembali menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Gagasan ini sejalan dengan pendekatan ekoteologi, sebuah cara pandang yang melihat pelestarian lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban sosial, tetapi juga amanah moral dan spiritual. Pemikir Muslim Sayyid Hossein Nasr menyebut krisis lingkungan pada dasarnya sebagai krisis spiritual. Menurutnya, manusia modern telah kehilangan rasa hormat terhadap alam dan memandangnya hanya sebagai objek ekonomi. Ketika nilai-nilai spiritual dipisahkan dari cara manusia mengelola bumi, eksploitasi menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Dalam perspektif tersebut, alam bukanlah sesuatu yang berada di luar diri manusia. Hutan yang hilang, sungai yang tercemar, atau udara yang memburuk pada akhirnya akan kembali memengaruhi kualitas hidup manusia itu sendiri. Menjaga lingkungan berarti menjaga keberlanjutan kehidupan.

Pandangan serupa juga pernah dikemukakan oleh Prof. Dr. Emil Salim, salah satu tokoh lingkungan hidup Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa akar persoalan lingkungan sekaligus kunci penyelesaiannya terletak pada manusia. Lingkungan yang sehat tidak hanya membutuhkan kemajuan material, tetapi juga pembangunan nilai dan kesadaran yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Karena itu, Tobat Ekologis diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah sejak dari sumbernya, menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle), menanam pohon secara masif, serta memperkuat pengelolaan lingkungan merupakan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh setiap warga negara.

Yang menarik, nilai-nilai ini tidak hanya hidup dalam satu tradisi keagamaan. Berbagai agama dan kearifan lokal Nusantara memiliki ajaran yang menempatkan alam sebagai sesuatu yang harus dihormati dan dijaga. Dari konsep stewardship dalam tradisi Kristen hingga prinsip harmoni alam dalam Hindu, Buddha, dan berbagai budaya lokal, semuanya mengajarkan bahwa manusia adalah bagian dari jejaring kehidupan yang lebih besar.

Hukum keseimbangan ini merupakan hubungan timbal balik antara manusia dengan air, tanah, udara dan lainnya.  Sebagai contoh, terputusnya lingkaran keseimbangan mengubah peranan air dari zat yang tadinya menghidupi alam dan manusia, menjadi banjir yang bisa merusak dan mematikan. Begitu pula hubungan timbal balik antara manusia dengan tanah, udara dan lainnya. 

Pemikiran di atas kini dikembangkan sebagai Program Prioritas Menteri Agama tahun 2025 – 2029 dikenal sebagai Ekoteologi yang tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 244 Tahun 2025.  Program Prioritas Kementerian Agama Asta Protas (Delapan Program Prioritas) yang bertujuan mendukung visi besar nasional Asta Cita dan berfokus pada layanan keagamaan yang lebih inklusif dan berdampak langsung bagi masyarakat. Point kedua Program Prioritas itu adalah Penguatan Ekoteologi: Mengarusutamakan kesadaran lingkungan dan menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam dari perspektif keagamaan.

Peran agama sangat sentral dalam menanamkan kesadaran lingkungan. Dalam Al-Quran ditegaskan, “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash [28]: 77)

Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, Tobat Ekologis mengingatkan kita bahwa solusi tidak selalu dimulai dari teknologi besar atau kebijakan yang rumit. Kadang-kadang, perubahan terbesar justru berawal dari kesadaran sederhana bahwa bumi bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan yang harus kita jaga untuk generasi yang akan datang.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Tobat Ekologis: bukan sekadar menyelamatkan alam, melainkan mengembalikan manusia pada jati dirinya sebagai penjaga kehidupan.

Jakarta, 12 Juni 2026

Penulis: Saiful Latief, M.Si. Pranata Humas Ahli Muda, Direktorat IGRK dan MPV

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon (PPI-TKNEK)

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image