Delapan hari perjalanan, 13 anak muda, dan ribuan pengalaman yang mengubah cara pandang. Dari Jakarta, Ciamis, Banyumas, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Magelang, KELANA—Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda—Java Over Trip mengajak generasi muda keluar dari ruang kelas untuk berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan.
Di sepanjang perjalanan, mereka menemukan satu kenyataan penting: krisis lingkungan bukan sesuatu yang jauh. Ia hadir di sungai yang tercemar, sampah yang menumpuk, lahan sempit di tengah kota, penggunaan energi, hingga cara manusia memperlakukan alam dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, mereka juga menemukan hal lain. Di tengah persoalan itu, banyak masyarakat telah bergerak.
KELANA, yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), berlangsung pada 5–12 Agustus 2026 dengan melibatkan 13 siswa terpilih dari berbagai sekolah dan didampingi Victoria Veronica Titisari Kosasieputri atau Vicky, Putri Indonesia Lingkungan 2026 dan Miss International Indonesia 2026.
Perjalanan tersebut didampingi tim Humas Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa ketika peserta menjelajahi Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Magelang. Pendampingan dilakukan bukan sekadar untuk mendokumentasikan kegiatan, melainkan memperkuat pembelajaran lapangan agar peserta melihat sendiri bagaimana masyarakat merawat lingkungan.
Kepala Pusdal LH Jawa, Eduward Hutapea, mengatakan pengalaman langsung dapat membuat kesadaran ekologis tumbuh lebih kuat.
“Generasi muda perlu diberi ruang untuk melihat, mengalami, dan belajar langsung dari praktik-praktik baik yang dilakukan masyarakat. Dari pengalaman itulah kesadaran lingkungan dapat tumbuh menjadi kepedulian dan akhirnya menjadi tindakan,” ujarnya.
Dari Sungai, Kita Belajar tentang Kehidupan
Di Yogyakarta, perjalanan membawa peserta ke Sungai Code.
Di Gondolayu, kawasan Romo Mangun, mereka mempelajari sejarah penataan sungai sekaligus pemberdayaan masyarakat bantaran. Sungai yang selama ini mungkin hanya dilihat sebagai saluran air berubah menjadi ruang belajar tentang manusia, permukiman, budaya, dan ekologi.
Di Kebun Sayur, peserta mengenal urban farming dan cara memanfaatkan lahan terbatas. Sementara di Jetisharjo, mereka belajar mengenai pengelolaan air bersih masyarakat dan penebaran benih ikan sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem Sungai Code.
Pengalaman tersebut menghadirkan kesadaran sederhana: kualitas lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia.
Air yang bersih berarti lingkungan yang lebih sehat. Sungai yang terawat berarti ruang hidup yang lebih aman. Lahan yang produktif dapat membantu ketahanan pangan. Dengan kata lain, merawat alam bukan tindakan abstrak, melainkan investasi langsung bagi kehidupan sehari-hari.
Tobat Ekologis Dimulai dari Kebiasaan
Di tengah perjalanan KELANA, muncul satu gagasan penting: tobat ekologis.
Istilah ini bukan sekadar ajakan untuk menyesali kerusakan lingkungan, melainkan perubahan cara manusia memandang dan memperlakukan alam. Tobat ekologis berarti menyadari bahwa banyak persoalan lingkungan lahir dari kebiasaan manusia sendiri—kemudian berani mengubah kebiasaan tersebut.
Sampah yang dibuang sembarangan, penggunaan barang sekali pakai secara berlebihan, pemborosan air dan energi, hingga ketidakpedulian terhadap kondisi sungai merupakan contoh kecil yang jika dilakukan jutaan orang akan menghasilkan dampak besar.
Karena itu, perubahan tidak harus menunggu program besar.
Memilah sampah dari rumah, membawa wadah guna ulang, mengurangi konsumsi yang tidak perlu, mengolah sampah organik menjadi kompos, menanam tanaman pangan di lahan terbatas, dan menghemat air serta listrik adalah bentuk sederhana tobat ekologis.
Di Bank Sampah Bumi Lestari dan Bank Sampah Gemah Ripah, peserta melihat bahwa sampah yang telah dipilah dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Di sinilah ekonomi sirkular menjadi relevan bagi masyarakat. Barang yang dianggap tidak berguna tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Sebagian dapat digunakan kembali, diperbaiki, didaur ulang, atau diolah menjadi produk bernilai.
Ketika Nilai Kehidupan Menjadi Penjaga Alam
KELANA juga mempertemukan peserta dengan Ananto Isworo, penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, melalui pembelajaran di Eco-Masjid.
Di tempat tersebut, lingkungan hadir sebagai bagian dari kehidupan, bukan isu yang berdiri sendiri. Kepedulian terhadap alam dapat tumbuh dari nilai yang diyakini masyarakat dan diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Pesan itu penting bagi Indonesia yang sangat beragam. Menjaga lingkungan dapat dilakukan dari sekolah, rumah ibadah, kampung, tempat kerja, komunitas, maupun ruang publik.
Peserta juga mengunjungi Fuel Terminal Pertamina Patra Niaga Rewulu, Program GOSARI, Akademi Ekologi WALHI, hingga Program Balkondes PGN Borobudur. Dari sana, mereka memperoleh perspektif bahwa keberlanjutan membutuhkan banyak tangan: pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, akademisi, dan generasi muda.
Dari Melihat Menjadi Berubah
Kekuatan KELANA terletak pada pengalaman.
Anak muda tidak hanya diberi tahu bahwa sungai harus dijaga. Mereka melihat sungai. Tidak hanya mendengar tentang sampah. Mereka melihat bagaimana sampah dikelola. Tidak sekadar membaca tentang pemberdayaan masyarakat. Mereka bertemu orang-orang yang menjalaninya.
Pengalaman semacam itu dapat menjadi titik balik: dari melihat menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli, lalu dari peduli menjadi bertindak.
Delapan hari perjalanan akhirnya bukan tentang seberapa jauh peserta pergi. Perjalanan ini tentang seberapa jauh cara pandang mereka berubah.
Bagi KLH/BPLH, perubahan tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Sebab persoalan ekologis tidak mungkin diselesaikan pemerintah seorang diri.
Tobat ekologis membutuhkan jutaan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.
Penulis: Yustinus Ade Stirman & Danang Budisantoso, Staf Humas Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa
Editor: Yulianti Fajar Wulandari, Biro Hubungan Masyarakat