Surabaya, 31 Juli 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus mendorong hilirisasi riset perguruan tinggi untuk menjawab tantangan ekologis nasional. Komitmen ini ditunjukkan langsung melalui kunjungan kerja Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, ke Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Senin (27/7/2026). Didampingi oleh Rektor ITS, Bambang Pramujati, kunjungan strategis ini difokuskan untuk meninjau deretan karya inovatif mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan hidup, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs).
Di hadapan sivitas akademika ITS, Menteri Jumhur mengekspresikan kekagumannya atas keberhasilan berbagai riset terapan yang langsung menyasar akar permasalahan ekologis di masyarakat. "Saya senang berkesempatan bersilaturahmi dan bisa menyaksikan beberapa keberhasilan dari Kampus ITS terkait dengan upaya mengatasi masalah lingkungan”.
Salah satu inovasi yang mendapat sorotan utama adalah pengembangan budi daya maggot. Larva pengurai ini terbukti efektif menjadi solusi ganda dalam tata kelola sampah modern. Selain berfungsi sebagai pakan ternak bernutrisi tinggi, maggot juga memiliki kemampuan biologis untuk membantu mengurai material yang selama ini menjadi momok lingkungan, seperti sampah plastik.
"Dengan budi daya magot ini bisa dikategorikan sebagai upaya melakukan zero waste," tegas Menteri Jumhur.
Selain maggot, apresiasi tinggi juga diberikan pada teknologi pengolahan sampah organik ITS Compostech. Alat komposter inovatif ini mampu memangkas waktu pengomposan menjadi kurang dari 10 jam. Keunggulan ini dinilai sangat strategis untuk diaplikasikan secara masif di kawasan-kawasan dengan volume sampah harian yang tinggi, seperti destinasi wisata maupun pusat perhotelan perkotaan.
Ke depan, KLH/BPLH memproyeksikan teknologi komposter ini untuk ditingkatkan kapasitasnya agar mampu memproduksi pelet biomassa pengganti batu bara berbahan dasar sampah organik. Inovasi ini diyakini mampu menyediakan suplai energi alternatif bagi sektor industri yang selama ini bergantung pada batu bara, sekaligus menjadi solusi pengolahan limbah sisa makanan dari dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tidak kalah menarik, Menteri Jumhur juga menyaksikan secara langsung keberhasilan mahasiswa ITS dalam menciptakan perangkat lunak (software) aplikasi pengelola sistem ekonomi sirkular. Aplikasi ini dirancang untuk menyajikan transparansi penuh mengenai alur produk ekonomi sirkular di tengah masyarakat.
"Sistem itu bisa menggambarkan seluruh sirkular ekonomi. Jadi bisa terlihat dari aplikasi ini bahwa siapa yang memproduksi produk ekonomi sirkular dan bagaiman proses produksinya dari awal hingga akhir bisa digunakan masyarakat," pungkas Menteri Jumhur.
Kunjungan Menteri Jumhur ke ITS Surabaya menegaskan bahwa inovasi anak bangsa adalah kunci utama dalam menjawab tantangan krisis lingkungan dan membuka peluang green jobs.
KLH/BPLH sangat berharap agar berbagai praktik baik dan terobosan teknologi hijau yang lahir di ITS ini dapat terus dikembangkan, ditingkatkan skalanya, dan direplikasi secara luas. Mari jadikan karya-karya inovatif ini sebagai inspirasi serta teladan bagi kampus-kampus dan institusi pendidikan lainnya di seluruh penjuru negeri. Sudah saatnya gelombang kolaborasi riset ramah lingkungan digalakkan secara masif demi mewujudkan tata kelola bumi yang berkelanjutan dan masa depan Indonesia yang lebih hijau.