Jakarta, 6 November 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) kembali menghadirkan ruang dialog interaktif dan santai bersama para awak media melalui Temu Lingkungan (TEMAN) Edisi ke-5 di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Mengangkat fokus pembahasan khusus mengenai persiapan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-31 (COP31), forum ini dirancang untuk membekali insan pers dengan wahaman komprehensif terkait dinamika perundingan serta strategi diplomasi iklim Indonesia di kancah global. Ajang COP31 sendiri dijadwalkan berlangsung di Antalya, Türkiye, pada 9–20 November 2026 mendatang. Mengusung tema utama "Delivering Climate Solutions at Scale", Indonesia datang dengan komitmen kuat untuk menghadirkan solusi iklim berskala besar melalui aksi nyata, terukur, dan berdampak luas bagi bumi.
Staf Ahli Menteri Bidang Sumber Daya Pangan, Sumber Daya Alam, Energi, dan Mutu Lingkungan KLH/BPLH sekaligus Penanggung Jawab Paviliun Indonesia, Laksmi Widyajayanti, memaparkan bahwa Indonesia kini berdiri sebagai salah satu pusat perhatian dunia dalam upaya mitigasi dan penurunan emisi gas rumah kaca. Berbekal kekayaan sumber daya serta rekam jejak konkret, termasuk komitmen melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC), Indonesia memiliki legitimasi kuat untuk memimpin percakapan solusi iklim internasional.
"Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang diperhatikan dunia dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Kita memiliki sumber daya yang diperlukan dan pengalaman nyata untuk menekan emisi secara terukur," jelas Laksmi.
Peran Kunci Media Menangkal Disinformasi
Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLH/BPLH, Yulia Suryanti, menekankan esensialnya peran media dalam mengawal ketat jalannya negosiasi delegasi Indonesia di COP31, baik melalui jalur hard negotiation maupun soft diplomacy. Guna memastikan arus informasi yang transparan, Biro Humas berkomitmen untuk menyuplai pembaruan data dan laporan langsung (first-hand information) dari arena konferensi.
"Yang kita kawal bersama adalah negosiasi Indonesia. Kami berharap rekan-rekan media dapat menerjemahkan informasi yang kami bagikan berdasarkan fakta akurat di lapangan. Informasi tangan pertama ini sangat penting agar masyarakat memahami situasi yang sebenarnya, sehingga ruang bagi peredaran rumor atau hoaks dapat ditutup rapat," ungkap Yulia Suryanti.
Menyambung hal tersebut, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLH/BPLH, Franky Zamzami, merinci bahwa COP31 bukan sekadar ajang pertemuan tingkat tinggi para pemimpin dunia, tetapi juga medan perundingan multilateral yang kompleks. Proses ini melibatkan negosiasi teknis di bawah kerangka konvensi UNFCCC, Perjanjian Paris, dan Protokol Kyoto, hingga segmen Climate Summit tempat para kepala negara menyuarakan visi iklim mereka.
"Di dalam COP terdapat segmen khusus untuk perundingan atau hard diplomacy. Selain itu, ada pula Climate Summit atau High-Level Summit, tempat para pemimpin negara maupun pimpinan delegasi menyampaikan pernyataan resmi terkait isu perubahan iklim," tambah Franky.
Apresiasi Positif dari Insan Pers
Penyelenggaraan TEMAN Edisi ke-5 ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh para jurnalis yang hadir. Salah satu wartawan dari Garuda TV, Nindy Dewinta, mengungkapkan apresiasinya atas ruang edukasi yang dinilai sangat membantu media dalam memahami kompleksitas isu global sebelum melakukan peliputan mendalam.
"Forum ini sangat edukatif dan memperluas pemahaman saya mengenai isu lingkungan hidup, terutama terkait seluk-beluk COP31. Melalui diskusi ini, kami sebagai insan media mendapatkan gambaran yang jauh lebih jernih mengenai skala pelaksanaan konferensi serta posisi delegasi Indonesia," tutur Nindy.
Nindy turut berharap sinergi yang terbangun erat antara insan pers dan KLH/BPLH dapat terus terjaga secara berkesinambungan, memastikan setiap narasi kebijakan iklim yang sampai ke masyarakat bernilai akurat dan mencerahkan.
Melalui TEMAN Edisi ke-5, KLH/BPLH berharap komunikasi dan sinergi dengan insan media semakin terbuka, khususnya dalam mengawal dan menyampaikan perkembangan COP31 kepada masyarakat. Pemberitaan yang akurat dan komprehensif diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai posisi, kepentingan, serta kontribusi Indonesia dalam mendorong solusi perubahan iklim di tingkat global.