Logo

Pramuka Belajar “Rapor” Lingkungan, Kenali Kondisi Bumi Lewat Data

19 Agustus 2026 64 Dilihat
Pramuka Belajar “Rapor” Lingkungan, Kenali Kondisi Bumi Lewat Data

 

Jakarta, 19 Agustus 2026 — Bagaimana cara mengetahui apakah lingkungan tempat tinggal kita masih sehat? Pertanyaan penting tersebut dijawab melalui pendekatan edukatif berbasis data bagi para peserta Jambore Nasional XII Tahun 2026. Di hadapan para anggota Pramuka Kontingen Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkenalkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) yang dimilikinya di Kantor KLH/BPLH, Jakarta, sebagai “rapor kesehatan lingkungan” untuk memotret kondisi ekologis suatu wilayah secara transparan.

​Dalam sesi interaktif tersebut, IKLH dijelaskan sebagai rangkuman komprehensif dari berbagai aspek penting lingkungan, mulai dari air, udara, dan lahan, hingga ekosistem laut serta keanekaragaman hayati. Para peserta kemudian diajak mendalami cara kerja data lingkungan melalui platform Integrated Big Data Environmental Quality (IBEG) yang dipandu langsung oleh fasilitator KLH/BPLH, Nauffal Ibrahim dan Intan Fauzi Anwar. Melalui IBEG, berbagai parameter ekologis, mulai dari stasiun pemantauan, kualitas air, hingga sebaran satwa, dapat diakses secara terintegrasi dalam satu platform digital.

 

Membaca Realitas Wilayah Lewat Angka dan Analisis Kritis

​Lebih dari sekadar melihat angka statistik, peserta diajak berpikir kritis untuk menganalisis mengapa kualitas lingkungan antarwilayah bisa menunjukkan variasi yang berbeda. Sebagai studi kasus, peserta diperlihatkan data IKLH Kota Semarang yang berada di angka 63, yang kemudian dibandingkan dengan sejumlah kabupaten di sekitarnya.

​Salah satu peserta dari kontingen Jawa Barat, Ramadhan, dengan sigap mengaitkan perbedaan tersebut dengan menyusutnya ruang terbuka hijau akibat masifnya alih fungsi lahan dan pembangunan wilayah. Analisis tersebut bermuara pada pemahaman yang lebih luas mengenai dinamika perkotaan: bahwa kepadatan lahan terbangun, aktivitas industri, serta volume lalu lintas yang tinggi memberikan tekanan signifikan terhadap kualitas lingkungan. Di sisi lain, peserta seperti Muhammad Azam Khairi yang juga dari kontingen Jawa Barat memberikan perspektif kontras melalui gambaran wilayahnya yang masih asri dengan pepohonan, persawahan, dan perkebunan hijau.

​Dari pemetaan data lintas daerah tersebut, para Pramuka muda diajak merumuskan aksi nyata yang dapat dimulai dari lingkungan terdekat mereka. Mulai dari gerakan penghijauan hingga aksi sederhana seperti memilah dan membuang sampah dari sumbernya, kesadaran kolektif mulai ditanamkan secara mendalam.

​Melalui pengalaman ini, para anggota Pramuka belajar bahwa membaca data lingkungan bukan sekadar menghafal angka di atas layar. Data berfungsi sebagai instrumen pemahaman awal untuk mendiagnosis persoalan, yang kemudian harus disempurnakan dengan tindakan nyata. Sebab, meski kondisi bumi dapat dibaca lewat data, perubahan yang sesungguhnya hanya akan terjadi ketika pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image