Surabaya, 8 Agustus 2026 — Di hadapan ribuan mahasiswa baru Program Doktor, Magister, Sub Spesialis, Spesialis, dan Profesi Universitas Airlangga (Unair), Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menitipkan pesan mendalam mengenai krisis ekologis dan masa depan bumi. Dalam kuliah umumnya yang bertajuk "Membangun Ilmu, Merawat Bumi, dan Menyiapkan Masa Depan Indonesia" di Surabaya, Kamis (6/8/2026), Menteri Jumhur mengingatkan agar pembangunan nasional tidak sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi semata.
"Kita tidak ingin sekadar menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi; Kita ingin menjadi negara dengan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan berketahanan; dan kita tidak ingin hanya mewariskan pembangunan; Kita ingin mewariskan kehidupan yang layak," tegas Menteri Jumhur.
Bagi Menteri Jumhur, ancaman nyata perubahan iklim, degradasi hutan, krisis air, dan pencemaran menuntut keterlibatan aktif kaum intelektual. Menteri Jumhur mendorong para mahasiswa pascasarjana agar tidak sekadar pandai melayangkan kritik terhadap kerusakan lingkungan, melainkan berani mengambil peran nyata dalam menghadirkan solusi ekologis yang berkelanjutan.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi penting. Jadilah generasi yang kritis. Tetapi jangan berhenti pada kritik. Jadilah generasi yang mampu menawarkan solusi. Jadilah generasi yang berani mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Tetapi juga berani mengambil bagian untuk memperbaikinya," tutur Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur juga menekankan bahwa penyelamatan lingkungan tidak selalu harus menunggu kebijakan makro yang rumit. Kesadaran ekologis harus dimulai dari ruang-ruang terdekat, mulai dari cara pandang di laboratorium, riset kampus, hingga kebiasaan harian dalam mengelola sumber daya alam dan sampah.
"Dari cara kita menggunakan energi. Dari cara kita memperlakukan sampah. Dari cara kita menghormati alam. Perubahan besar selalu membutuhkan manusia yang bersedia memulai dari dirinya sendiri," kata Menteri Jumhur.
Lebih jauh, Menteri Jumhur memaparkan pandangannya mengenai peran perguruan tinggi sebagai garda terdepan penjaga peradaban ekologis. Universitas harus menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan persoalan nyata di lapangan, di mana teknologi menjawab krisis lingkungan, dan di mana kebebasan akademik berjalan seiring dengan tanggung jawab moral untuk melindungi bumi.
"Kita tidak ingin anak-anak kita kelak mewarisi bumi yang rusak, melainkan memastikan mereka masih bisa menghirup udara bersih, menikmati air layak, dan mewarisi alam yang sehat," ucap Menteri Jumhur.
Mengakhiri kuliah umumnya, Menteri Jumhur menyampaikan pesan kuat kepada para mahasiswa yang kelak akan memegang kendali di berbagai sektor strategis untuk senantiasa meletakkan aspek lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan.
"Bangunlah ilmu dengan integritas. Gunakan ilmu untuk kemanusiaan. Gunakan kekuasaan untuk kepentingan publik. Dan gunakan kemajuan untuk merawat bumi," pungkas Menteri Jumhur, mengingatkan bahwa bumi ini bukanlah warisan, melainkan pinjaman dari generasi masa depan.
KLH/BPLH menegaskan pentingnya menyatukan langkah akademik dengan tanggung jawab ekologis, di mana masa depan Indonesia yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila kaum intelektual konsisten menempatkan kelestarian alam sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.