Jakarta, 4 Agustus 2026 - Memasuki masa purnabakti seringkali menjadi fase transisi yang menantang bagi seorang abdi negara, baik dari sisi psikologis, finansial, maupun penyesuaian rutinitas. Guna mengawal masa peralihan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) membekali para aparatur sipil negara (ASN) yang bersiap pensiun melalui kegiatan “Pembekalan Persiapan Memasuki Masa Purnabakti bagi ASN Lingkup KLH/BPLH” yang diselenggarakan di Jakarta.
Membuka agenda tersebut, Sekretaris Kementerian LH/Sekretaris Utama BPLH, Rosa Vivien Ratnawati, menekankan bahwa akhir masa dinas tidak boleh dimaknai sebagai akhir dari produktivitas seseorang. "Purna tugas adalah perubahan, bukan akhir. Ini adalah kesempatan memulai babak baru dalam kehidupan”.
Rosa Vivien mengungkapkan, dinamika kepegawaian menunjukkan bahwa hingga 2028 mendatang terdapat 149 ASN KLH/BPLH yang akan memasuki masa pensiun; merinci 7 orang pada 2026, 62 orang pada 2027, dan 80 orang pada 2028. Mengingat jumlah tersebut cukup signifikan, pembekalan ini krusial agar alih generasi berjalan mulus.
Kendati garis akhir karier birokrasi sudah di depan mata, Rosa Viviem mengingatkan para pegawai agar tetap menjaga standar integritas dan tanggung jawab hingga hari terakhir bertugas.
"Profesionalisme adalah komitmen yang kita pegang teguh dari awal hingga akhir perjalanan karier. Jangan pernah berpikir bahwa karena akan segera pensiun kualitas kerja dapat dikurangi atau tanggung jawab dapat diabaikan," tegas Rosa Vivien.
Di samping kesiapan administratif dan pengelolaan keuangan, Rosa juga menggarisbawahi pentingnya kesiapan mental agar para pegawai terhindar dari sindrom pasca-jabatan (post power syndrome).
Pendekatan yang konstruktif turut disampaikan oleh Penasehat Senior Menteri LH/Kepala BPLH, Rahmat Ismail. Ia mengajak para peserta untuk melihat masa pensiun sebagai kesempatan merumuskan kembali peran di tengah masyarakat.
"Yang pensiun adalah jabatan, bukan nilai dari diri kita. Yang berhenti adalah masa tugas sebagai ASN," kata Rahmat.
Rahmat menambahkan, angka harapan hidup yang kian meningkat membuat fase purnabakti dapat diisi secara aktif dan bermakna. "Pertanyaannya bukan lagi kapan saya pensiun, tetapi saya ingin menjadi siapa selama 20 tahun berikutnya.”
Selain itu, Rahmat memaparkan bahwa kualitas hidup di masa pensiun ditopang oleh empat pilar utama: kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial yang harmonis, serta arah tujuan hidup yang jelas. Lebih lanjut, ia mendorong para purnabakti untuk tidak menyia-nyiakan rekam jejak puluhan tahun di sektor lingkungan.
"Jangan biarkan pengalaman itu berhenti bersama masa pensiun. Bayangkan apabila setiap pensiunan KLH menjadi pembina bank sampah, penggerak penghijauan, pendamping sekolah, atau membantu desa membangun ekonomi hijau. Pengalaman yang dimiliki akan menjadi modal sosial yang luar biasa bagi bangsa," pungkas Rahmat.
Melalui pembekalan ini, KLH/BPLH menegaskan komitmennya untuk mendampingi para pegawai tidak hanya selama masa aktif kedinasan, tetapi juga dalam menghadapi transisi menuju masa purnabakti. Dengan pengalaman panjang di bidang lingkungan hidup, para pensiunan diharapkan tetap dapat bertransformasi menjadi modal sosial yang produktif dan terus berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di tengah masyarakat.