Logo

Menteri LH Dorong Kawasan Industri Jadi Pusat Ekonomi Hijau dan Perdagangan Karbon

30 Juli 2026 198 Dilihat
Menteri LH Dorong Kawasan Industri Jadi Pusat Ekonomi Hijau dan Perdagangan Karbon

 

Jakarta, 30 Juli 2026 – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong transformasi besar bagi kawasan industri di Indonesia agar tidak lagi identik dengan bangunan beton yang gersang dan minim ruang hijau. Menteri LH/ Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa kawasan industri masa depan harus mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang patuh lingkungan, menerapkan prinsip ekonomi sirkular, serta memberikan nilai manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

 Gagasan strategis tersebut disampaikan dalam Forum Bisnis Himpunan Kawasan Industri Indonesia bertema “Kawasan Industri sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Era Hilirisasi, Transisi Energi, dan Transformasi Digital” di Jakarta. Menteri Jumhur menyampaikan bahwa pemerintah mendukung penuh akselerasi industrialisasi agar mampu menyerap tenaga kerja secara maksimal. Namun, percepatan pembangunan industri harus dijalankan seiring dengan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan lingkungan sejak tahap awal pembangunan.

 “Hal itu bisa dilakukan bila dari awal memenuhi syarat-syarat untuk menjadi industri yang hijau, patuh terhadap lingkungan,” terang Menteri Jumhur.

 

Pengawasan Saintifik dan Ekonomi Sirkular

Untuk menjawab tantangan pengawasan aktivitas tenant di dalam kawasan industri, KLH/BPLH membuka ruang kolaborasi bagi pengelola kawasan untuk memiliki pengawas lingkungan internal yang kompeten dan bersertifikat. Pendekatan ini bertujuan memastikan pengawasan berjalan profesional, objektif, dan berbasis data ilmiah.

 “Tidak boleh juga karena tidak paham soal lingkungan, lalu tenant yang tidak salah malah dibilang salah. Atau sebaliknya. Intinya nanti acuan kerjanya adalah saintifik dan itu bisa dilatih. Pemerintah lewat KLH siap mendukung,” kata Menteri Jumhur.

 Selain aspek pengawasan, KLH/BPLH juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan energi rendah karbon. Salah satu inovasi konkret yang ditawarkan adalah pemanfaatan sampah organik menjadi pelet biomassa sebagai substitusi batu bara untuk bahan bakar industri.

 “Jadi sampahnya hilang dan industri bisa menggunakan pelet pengganti batu bara untuk kegiatan industrinya dengan harga lebih murah. Sehingga lingkungan jadi lebih bersih. Kegiatan ini bisa menjadikan ekonomi sirkular,” jelas Menteri Jumhur.

 

Peluang Perdagangan Karbon dan Lapangan Kerja Hijau

Lebih lanjut, Menteri Jumhur mengajak para pengusaha kawasan industri untuk mengubah wajah kawasan industri menjadi bentang lahan yang hijau dan produktif. Menurutnya, penghijauan lahan di kawasan industri bukan sekadar estetika atau tanggung jawab ekologis, melainkan instrumen ekonomi baru yang sangat bernilai melalui mekanisme perdagangan karbon (carbon trading).

 “Kenapa ya saya kalau mengunjungi kawasan industri itu kok umumnya gersang ya. Ini buat saya tidak asyik. Kenapa tidak ditanami pohon biar hijau. Yuk kita bicarakan agar kawasan industri juga bisa hijau,” ajak Menteri Jumhur.

“Itulah yang saya bilang pembangunan melalui pemulihan lingkungan. Tanaman itu ada yang memelihara, menyiram, di situ menyerap pekerjaan hijau atau green jobs. Setelah sekian tahun lalu bisa di-offset dapat sekian juta CO₂ ekuivalen karbon yang bisa diserap,” ungkap Menteri Jumhur.

 

Integrasi Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Lokal

Dalam visi keberlanjutan KLH/BPLH, transformasi lingkungan juga harus sejalan dengan inklusivitas sosial. Mengingat pengalamannya saat memimpin Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia periode 2007–2014, Menteri Jumhur menyoroti masih adanya masyarakat lokal di sekitar kawasan industri yang belum terserap sebagai tenaga kerja.

 Oleh karena itu, Menteri Jumhur menekankan pentingnya integrasi sosial melalui pelatihan dan pendidikan vokasi berkelanjutan antara pemerintah dan pengelola kawasan industri. Langkah ini memastikan bahwa kehadiran industri dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus mencetak tenaga kerja terampil yang siap mengisi kebutuhan industri hijau di masa depan.

 Melalui pendekatan menyeluruh ini, KLH/BPLH optimis kawasan industri di Indonesia tidak hanya menjadi pusat produksi dan investasi, tetapi juga menjadi ujung tombak solusi perubahan iklim yang inklusif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image