Logo

Menteri Jumhur: Bangun Budaya Lingkungan Perlu Pendekatan Psikologi Perilaku

01 Juli 2026 350 Dilihat
Menteri Jumhur: Bangun Budaya Lingkungan Perlu Pendekatan Psikologi Perilaku

 

Jakarta, 1 Juli 2026 – Krisis lingkungan sejatinya bukan hanya krisis ekologi, tetapi juga krisis perilaku. Tanpa perubahan cara berpikir dan bertindak masyarakat, berbagai kebijakan dan teknologi lingkungan tidak akan mampu menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Hal tersebut ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-66 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bertema "Menyehatkan Jiwa, Merawat Bumi: Psikologi untuk Masa Depan Berkelanjutan" di Kampus UI, Depok.

 Dalam kesempatan tersebut, Menteri Jumhur menyampaikan bahwa KLH/BPLH saat ini tengah menjalankan transformasi besar dalam tata kelola lingkungan hidup Indonesia. Transformasi tersebut tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, pengendalian pencemaran, pemulihan lingkungan, maupun perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga membangun budaya lingkungan (environmental culture) sebagai fondasi keberlanjutan.

 "Kami sedang membangun budaya lingkungan (environmental culture). Kami meyakini bahwa regulasi saja tidak cukup. Teknologi saja tidak cukup. Investasi saja tidak cukup. Yang paling menentukan adalah perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, pendekatan psikologi perilaku menjadi sangat penting dalam merancang kebijakan publik," ujar Menteri Jumhur.

 Menurut Menteri Jumhur, budaya lingkungan yang ingin dibangun adalah budaya yang mendorong masyarakat memilah sampah, mengurangi sampah makanan di tingkat rumah tangga, menggunakan transportasi rendah emisi, membangun budaya produksi yang bertanggung jawab di dunia usaha, serta menjadikan aparatur pemerintah sebagai teladan dalam menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

 Menteri Jumhur menambahkan, seluruh perubahan tersebut membutuhkan dukungan ilmu perilaku (behavioral science) yang diperkuat melalui riset psikologi. Oleh karena itu, Menteri Jumhur berharap Fakultas Psikologi UI dapat menjadi pusat unggulan dalam pengembangan environmental psychology, behavioral insights, serta inovasi kebijakan berbasis ilmu perilaku guna mendukung perlindungan lingkungan hidup.

 "Semuanya membutuhkan pendekatan ilmu perilaku (behavioral science) yang didukung oleh riset psikologi. Saya berharap Fakultas Psikologi UI menjadi pusat unggulan dalam pengembangan environmental psychology, behavioral insights, dan inovasi kebijakan berbasis ilmu perilaku untuk mendukung perlindungan lingkungan hidup," kata Menteri Jumhur. 

Menteri Jumhur mengungkapkan bahwa selama ini isu perubahan iklim lebih banyak dibahas dari perspektif sains, teknologi, ekonomi, energi, maupun politik. Padahal, terdapat satu dimensi yang kerap luput dari perhatian, yakni dimensi psikologis manusia yang justru menjadi penentu keberhasilan berbagai kebijakan lingkungan.

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan lebih banyak riset mengenai perilaku masyarakat terhadap lingkungan, termasuk strategi komunikasi perubahan iklim yang efektif serta pendekatan psikologi dalam membangun budaya ekonomi sirkular, pengurangan sampah, konservasi sumber daya alam, hingga peningkatan partisipasi publik.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image