Bali, 22 Oktober 2026 — Hari ketiga penyelenggaraan Konferensi Air Internasional ke-11 (IWC-11) di Bali, Rabu (21/10/2026), menjadi ruang bagi para mitra internasional untuk mendalami berbagai inovasi dalam pengelolaan perairan. Setelah mengikuti kunjungan lapangan sehari sebelumnya, para peserta melanjutkan pertukaran pengalaman melalui lokakarya, sesi khusus, dan diskusi pleno untuk membahas bagaimana inovasi dapat diterapkan dan dikembangkan guna menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan KLH/BPLH, Erik Teguh Primiantoro, yang juga berperan sebagai Global Focal Point (GFP) GEFInternational Waters untuk Indonesia, menjelaskan bahwa IWC-11 merupakan forum penting bagi komunitas Global Environment Facility (GEF) untuk memperkuat kolaborasi dan berbagi pembelajaran dari berbagai proyek pengelolaan perairan. Indonesia turut berkontribusi dengan memperkenalkan berbagai inisiatif yang telah dan sedang berjalan di dalam negeri, sekaligus menyerap pengalaman dari negara dan mitra internasional lainnya.
"Implementasi menjadi kata kunci. Kita harus mampu menghasilkan aksi nyata di tingkat tapak, tidak hanya untuk menjawab aspek lingkungan dan sains, tetapi juga mendorong kegiatan ekonomi berbasis lingkungan. Untuk itu, diperlukan skema pendanaan inovatif, termasuk dengan melibatkan sektor swasta, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat," tutur Erik Teguh.
Dari Pembelajaran Lapangan Menuju Solusi Global
Rangkaian IWC-11 mengangkat pentingnya berbagi sumber daya air, tanggung jawab bersama, dan aksi kolektif untuk mendorong perubahan sistemik. Prinsip tersebut diterjemahkan melalui pembelajaran lapangan yang memperlihatkan bagaimana kolaborasi berbagai pihak dapat diwujudkan dalam praktik pengelolaan lingkungan.
Indonesia memiliki beragam contoh pendekatan yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan pengetahuan lokal, sains, budaya, dan kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya adalah sistem pengairan subak di Bali, yang menunjukkan bagaimana pengelolaan air dapat bertumpu pada tata kelola bersama dan kearifan lokal. Inisiatif lain dalam pengembangan kawasan berbasis geopark juga memperlihatkan keterkaitan antara ilmu pengetahuan, pelestarian alam, budaya, dan penghidupan masyarakat.
Para peserta juga memperoleh pembelajaran dari berbagai inisiatif konservasi pesisir dan laut serta upaya penanganan sampah plastik yang berpotensi mencemari perairan. Pengalaman tersebut menjadi bahan pertukaran pengetahuan mengenai bagaimana praktik lokal dapat dikembangkan dan diadaptasi sebagai bagian dari solusi yang lebih luas.
Melalui diskusi pada hari ketiga, para mitra mendalami cara memperkuat keberlanjutan berbagai inisiatif tersebut, termasuk melalui inovasi pembiayaan dan pertukaran pengetahuan lintas negara. Upaya ini diharapkan dapat menjembatani pembelajaran dari lapangan dengan penerapan solusi yang lebih luas.
Pembiayaan Inovatif untuk Memperkuat Kemitraan
Dari perspektif kawasan Mediterania, perwakilan United Nations Environment Programme (UNEP), Christine Haffner-Sifakis, menilai IWC-11 memberikan kesempatan penting bagi komunitas internasional untuk belajar bersama dan memperkuat kerja sama. Ia menyoroti pembahasan mengenai blended finance atau pembiayaan campuran dan knowledge management atau pengelolaan pengetahuan sebagai dua aspek penting untuk mendukung tujuan konferensi.
Menurut Christine, pertukaran pengalaman dari berbagai kawasan dapat membantu para mitra mengembangkan sinergi, meningkatkan efektivitas kolaborasi, dan memperkuat kemitraan dalam menghadapi tantangan pengelolaan perairan.
"Kami belajar banyak dari komunitas ini. Kami dapat mengembangkan sinergi, bekerja sama dengan lebih efektif, dan yang terpenting, terus membangun kemitraan yang kuat," ungkap Christine.
Pembahasan mengenai blended finance menjadi relevan karena pengelolaan perairan membutuhkan dukungan pendanaan berkelanjutan dan kolaborasi berbagai pihak. Melalui pendekatan ini, pendanaan publik, dukungan lembaga internasional, dan keterlibatan sektor swasta berpotensi saling melengkapi untuk memperluas penerapan solusi lingkungan.
Pelibatan Pemangku Kepentingan Menjadi Kunci Keberlanjutan
Perspektif kawasan Pasifik turut memperkaya diskusi mengenai keberlanjutan pengelolaan sumber daya air. Perwakilan Pacific Community, Raymond Schuster, yang berbasis di Fiji dan bekerja di bidang sumber daya air, kebencanaan, dan perencanaan, menilai IWC-11 memberikan pemahaman lebih luas mengenai berbagai upaya pengelolaan sumber daya, mulai dari air tawar hingga ekosistem laut.
Menurut Raymond, pendekatan source to sea atau dari hulu hingga laut penting untuk memahami keterkaitan antarekosistem. Namun, keberhasilan pengelolaan tidak hanya ditentukan oleh pendekatan teknis, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
"Hal yang paling penting untuk membangun keberlanjutan adalah memastikan para pemangku kepentingan terlibat dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan maupun infrastruktur yang dibangun. Kita juga perlu memiliki sistem tata kelola yang baik agar pelaksanaannya semakin efektif," jelas Raymond.
Raymond berharap pembelajaran dari pengalaman berbagai kawasan dalam membangun keterlibatan pemangku kepentingan dapat diterapkan dalam program-program Pacific Community di kawasan Pasifik. Raymond juga memperkenalkan nilai tautua, yang bermakna melayani masyarakat dan kawasan, sebagai prinsip yang mendasari kerja organisasinya dalam mendukung masyarakat, baik di masing-masing negara maupun di seluruh kawasan Pasifik.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa inovasi dan pendanaan perlu berjalan beriringan dengan tata kelola yang kuat serta keterlibatan masyarakat. Dengan demikian, program yang dijalankan tidak hanya menghasilkan infrastruktur atau kegiatan, tetapi juga membangun rasa kepemilikan dan kapasitas lokal untuk menjaga keberlanjutannya.
Melalui IWC-11, Indonesia mendorong agar pertukaran pengetahuan, praktik baik, dan inovasi antarmitra internasional menghasilkan tindak lanjut yang konkret. Penguatan kolaborasi, pembiayaan inovatif, dan keterlibatan pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat penerapan solusi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perairan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.