Logo

Kolaborasi KLH/BPLH, Kemenag, dan Kemendikdasmen Satukan Langkah Jaga Kelestarian Alam

13 Oktober 2026 87 Dilihat
Kolaborasi KLH/BPLH, Kemenag, dan Kemendikdasmen Satukan Langkah Jaga Kelestarian Alam

 

​Jakarta, 13 Oktober 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengambil langkah kolaboratif dalam merawat bumi dengan menggandeng Kementerian Agama (Kemenag) serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sinergi lintas kementerian ini secara resmi meluncurkan program kolaboratif untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan hidup di satuan pendidikan seluruh Indonesia. Peluncuran program bertajuk "Mengawali Langkah Bersama: Tobat Ekologis untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan" ini diselenggarakan di Jakarta, Senin (12/10/2026). 

​Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, mengungkapkan bahwa gerakan ini menghadirkan energi positif bagi upaya pelestarian lingkungan dengan memadukan kesadaran ekologis, penegakan hukum, serta panggilan nurani. Menurutnya, esensi dari gerakan ini adalah kesadaran moral untuk menghentikan kebiasaan merusak alam, tidak mengulangi kesalahan, serta melakukan restorasi secara berkelanjutan.

"Kata kuncinya adalah sadar, tidak mau mengulangi lagi karena tobat, dan melakukan restorasi untuk lingkungan yang lebih baik. Yang sering dilupakan adalah kesadaran batin dan rasa kebersamaan antarsesama makhluk hidup, dan itu akan jadi kata kunci bagi KLH dalam menjaga lingkungan hidup," tutur Menteri Jumhur turut melakukan soft launching Gerakan Tobat Ekologis Nasional.

Menteri Jumhur menjelaskan bahwa kepedulian terhadap alam mencakup tanggung jawab moral dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan seluruh makhluk hidup—meliputi manusia, hewan, hingga keanekaragaman hayati, baik di daratan maupun di lautan.

 

​Membangun Kesadaran Batin dan Tanggung Jawab Moral

Senada dengan hal tersebut, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menekankan pentingnya membangun kesadaran nurani yang mendalam terhadap kelangsungan alam semesta. Dalam pandangannya, alam semesta harus dipandang sebagai bagian dari kehidupan yang utuh dan saling terhubung, bukan sekadar objek untuk dieksploitasi.

"Selama manusia menganggap makhluk lainnya di alam sebagai benda mati, maka kerusakan besar akan datang lebih cepat. Namun kalau manusia memperlakukan alam sebagai mitra kehidupan, boleh memanfaatkan tetapi jangan sampai melakukan eksploitasi yang melampaui batas daya dukung alam," tegas Menteri Nasaruddin.

Menteri Nasaruddin menambahkan, panggilan nurani memiliki kekuatan moral yang luar biasa karena mampu menjadi pengawas batiniah bagi setiap individu di mana pun mereka berada, bahkan tanpa kehadiran aparat penegak hukum. Pendekatan berbasis nurani dan etika ini dinilai sangat penting untuk dikedepankan dalam membentuk karakter masyarakat yang peduli lingkungan.

 

​Pembiasaan Nyata dari Ruang Kelas

Dari sektor pendidikan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyambut baik kolaborasi ini dengan memperkuat pembiasaan hidup bersih dan sehat di satuan pendidikan. Melalui jaringan Sekolah Adiwiyata yang telah dikembangkan, ribuan sekolah di bawah pembinaannya berkomitmen untuk mempraktikkan langsung budaya lingkungan yang aman dan nyaman.

"Sekolah adalah tempat pendidikan pembiasaan. Kami meminta sekolah-sekolah untuk membiasakan memperhatikan lingkungan sekitarnya agar tertib, aman, dan nyaman, serta menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan lewat aksi nyata sehari-hari," pungkas Wamen Atip.

​Melalui sinergi antara KLH/BPLH, Kemenag, dan Kemendikdasmen ini, pemerintah berharap penanaman nilai ekologis berbasis nurani dan dunia pendidikan mampu membentuk generasi masa depan yang memiliki kepekaan tinggi serta konsisten menjaga kelestarian bumi sejak dini. 

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image