Logo

KLH/BPLH Sulap Kompleks Yuka Pontianak Jadi Kampung Losida untuk Atasi Sampah Organik

17 September 2026 107 Dilihat
KLH/BPLH Sulap Kompleks Yuka Pontianak Jadi Kampung Losida untuk Atasi Sampah Organik

 

Pontianak, 17 September 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan (KLH/BPLH) melalui Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Kalimantan mengembangkan Kompleks Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kota Pontianak, menjadi Kampung Losida melalui penerapan pengelolaan sampah organik mandiri berbasis pot Lodong Sisa Dapur (Losida) yang resmi diluncurkan pada Sabtu, 12 September 2026.

​Kegiatan yang diresmikan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Edelweis ini dihadiri oleh warga dari tiga Rukun Warga (RW). Dalam pelaksanaannya, Pusdal LH Kalimantan mendistribusikan 50 pot Losida serta menggandeng Komunitas Gerakan Pembaharuan (Gaharu) dan Forum Komunitas Hijau (FKH) untuk memberikan pendampingan kepada 50 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat selama tiga bulan ke depan.

 

Solusi Adaptif untuk Lahan Gambut dan Tekan Risiko TPA

​"Sistem Losida tradisional atau pipa ditanam di tanah kurang cocok untuk diterapkan di Pontianak yang bergambut dan rawan genangan air karena dapat mencemari air. Sehingga, modifikasi menjadi pot Losida adalah solusi inovatif agar lingkungan tetap terjaga dan kompos tidak basah atau rusak," jelas Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Kalimantan, Buyung Yusuf Wibisono.

​Inisiatif ini dirancang untuk mengarahkan warga agar memilah dan mengolah sampah dari sumbernya, sehingga volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dapat berkurang. Buyung mengingatkan kembali bahwa “Sampah organik yang tercampur dan menumpuk berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di TPA. Kebakaran dipicu oleh gas metan yang dihasilkan dari pembusukan tumpukan sampah organik. Tahun ini, tercatat ada 22 TPA di Indonesia yang terbakar”.

Berdasarkan data SIPSN, total timbulan sampah di Kota Pontianak pada 2025 mencapai sekitar 489 ton per hari, sehingga kondisi TPA Batu Layang memerlukan penanganan yang tepat.

 

Kolaborasi dan Integrasi Bank Sampah

​Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, yang membuka acara turut menyampaikan dukungannya terhadap program ini dalam mencapai target pemkot untuk menangani 70 persen sampah dan mengurangi 30 persen sampah.

​"Pemerintah Kota Pontianak menetapkan target penanganan sampah sebesar 70 persen dan pengurangan sampah sebesar 30 persen. Tapi, harus dipahami bahwa sehebat apa pun program pemerintah dan sebesar apa pun alokasi dana yang diturunkan, hasilnya tidak akan optimal tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat," ungkap Syarif.

​“Kesadaran kolektif dan partisipasi masyarakat ini diharapkan dapat mengurangi secara terukur total jumlah timbulan sampah. Kami berharap gerakan-gerakan kecil yang dimulai hari ini mampu membawa dampak besar dan fundamental bagi sistem pengolahan sampah di seluruh penjuru Kota Pontianak,” tambah Syarif.

​Sementara itu, Ketua Komunitas Gaharu, Hermayani Putra, mengungkapkan bahwa program pengolahan sampah organik ini berjalan beriringan dengan kegiatan pemilahan sampah yang sudah ada sebelumnya.

​"Pengelolaan sampah organik melalui sistem Losida ini melengkapi pemilahan anorganik yang sudah berjalan. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada Pusdal LH Kalimantan yang telah menginisiasi program ini," pungkas Hermayani, merujuk pada 41 warga Kompleks Yuka yang sebelumnya telah aktif mengintegrasikan pemilahan sampah anorganik dengan bank sampah.

​Melalui kerja sama antara pemerintah, komunitas, dan warga, pembentukan Kampung Losida di Kompleks Yuka diharapkan dapat berjalan dengan baik dan menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengelola sampah perkotaan secara mandiri.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image