Logo

KLH/BPLH Dorong Bisnis Persampahan Terhubung dengan Pasar dan Rantai Pasok

08 Oktober 2026 41 Dilihat
KLH/BPLH Dorong Bisnis Persampahan Terhubung dengan Pasar dan Rantai Pasok

 

 

Yogyakarta, 8 Oktober 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus mengintensifkan konsolidasi jejaring bisnis persampahan agar terintegrasi erat dengan mekanisme pasar dan rantai pasok yang berkelanjutan. Langkah strategis ini mengemuka dalam Business Networking Luncheon yang menandai puncak penutupan program Scaling Up Local Enterprise on Waste Management in Indonesia (SULE-WM) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (7/10/2026).

​Forum kolaboratif ini mempertemukan puluhan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pelaku usaha, unsur pemerintah, komunitas lingkungan, pembeli akhir (off-taker), sektor perhotelan, restoran, dan kafe (HOREKA), hingga institusi pendidikan, riset, serta mitra bisnis strategis. Pertemuan dirancang sebagai wadah untuk merajut kolaborasi dan membangun aliansi bisnis yang kokoh.

​Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa, Eduward Hutapea, yang hadir sebagai pembicara kunci dalam sesi Business Spotlight, menekankan bahwa modernisasi tata kelola sampah menuntut ekosistem kerja sama yang merangkul seluruh mata rantai ekonomi.

​"Kolaborasi seperti ini penting karena pengelolaan sampah membutuhkan mata rantai yang saling terhubung, mulai dari pemilahan, pengumpulan, pengolahan hingga pasar. Ketika pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat bergerak dalam satu ekosistem, pengelolaan sampah tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan," tutur Eduward.

​Edward menambahkan, keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada keseimbangan antara misi pelestarian ekologi dan kalkulasi ekonomi, di mana sampah yang bernilai komersial sekaligus mereduksi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir.

​"Yang kita bangun bukan sekadar transaksi bisnis, tetapi ekosistem. Ada kepastian bahan baku, ada proses pengolahan, ada pasar, dan ada manfaat lingkungan yang harus dijaga bersama," tandas Edward.

​Senada dengan hal tersebut, Direktur PERSADA Langgeng Makmur (PLM), Bernadetta Widiandayani, menggarisbawahi bahwa fase purna program SULE-WM harus menjadi batu loncatan bagi akselerasi kerja sama riil di tingkat tapak.

​"Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni penutupan program. Yang lebih penting adalah bagaimana jejaring yang sudah terbentuk dapat terus berkembang menjadi kerja sama nyata, membuka pasar, memperkuat rantai pasok, dan membuat usaha pengelolaan sampah semakin berkelanjutan," jelas Widiandayani.

​Dalam kesempatan yang sama, pihak PLM memaparkan rekam jejak serta capaian program SULE-WM, yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan round-table networking luncheon. Sejumlah aliansi bisnis potensial turut ambil bagian, mencakup UD Rajin Magelang, PT Sumber Barokah Sleman, Bowo Rosok Bantul, Hotel 101 Tugu Yogyakarta, Hotel 101 Style Yogyakarta, lembaga pendidikan, TPS3R, bank sampah, komunitas, hingga pemerintah daerah.

​Melalui sinergi yang terbangun, KLH/BPLH optimistis program pendampingan ini dapat menorehkan fondasi ekosistem persampahan nasional yang mandiri, berorientasi pasar, serta berdaya tahan tinggi guna mewujudkan visi ekonomi sirkular yang terintegrasi di Indonesia.

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image