Logo

KLH/BPLH Ajak Delegasi RI Imbangi Jejak Karbon Perjalanan Menuju COP31 Turkiye Lewat Aksi Tanam Mangrove

31 Oktober 2026 43 Dilihat
KLH/BPLH Ajak Delegasi RI Imbangi Jejak Karbon Perjalanan Menuju COP31 Turkiye Lewat Aksi Tanam Mangrove

Jakarta, 31 Oktober 2026 - Menuju Konferensi Iklim Dunia COP31 UNFCCC di Antalya, Turki pada tanggal 9 – 20  November 2026, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak seluruh Delegasi Indonesia (DELRI) untuk melakukan aksi nyata: menghitung dan menebus (offset) emisi karbon dari tiket penerbangan mereka. Aksi dan kampanye yang digelar di Hutan Lindung Angke Kapuk pada 30 Oktober 2026 ini membuktikan bahwa kehadiran Indonesia di forum iklim global tidak sekadar untuk berdiplomasi, tetapi juga disertai tanggung jawab langsung untuk menekan jejak karbon.

​Staf Ahli Menteri Bidang Sumber Daya Pangan, Sumber Daya Alam, Energi dan Mutu Lingkungan KLH/BPLH sekaligus Penanggung Jawab Paviliun Indonesia COP31, Laksmi Widyajayanti, menegaskan bahwa mobilitas menuju forum internasional juga membawa konsekuensi ekologis yang harus dipertanggungjawabkan.

"Perjalanan kita menuju COP31 di Antalya juga menghasilkan jejak karbon yang perlu kita pertanggungjawabkan. Karena itu, penanaman pohon ini bukan hanya bagian dari upaya mengimbangi emisi perjalanan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa aksi iklim harus terus dilakukan dan dilanjutkan," tutur Laksmi.

​Konversi Presisi: Hitung Emisi Penerbangan Menjadi Jumlah Pohon

​Berdasarkan estimasi kalkulasi rute perjalanan Jakarta–Istanbul–Antalya pulang-pergi, emisi yang dihasilkan dari penerbangan kelas ekonomi mencapai sekitar 1.010 kilogram CO₂ per penumpang, sementara kelas bisnis mencapai sekitar 3.098 kilogram CO₂ per penumpang.

​Dengan asumsi satu pohon mampu menyerap sekitar 25 kilogram CO₂ per tahun selama masa pertumbuhan 10 tahun (total serapan 250 kilogram CO₂ per pohon), kebutuhan kompensasi dikonversikan secara presisi menjadi 5 pohon bagi setiap peserta kelas ekonomi dan 12 hingga 13 pohon bagi peserta kelas bisnis. KLH/BPLH menekankan bahwa penanaman pohon bukan mekanisme instan, melainkan memerlukan pemeliharaan jangka panjang serta penyulaman berkala agar potensi serapannya benar-benar tercapai.

​Bagi delegasi yang berhalangan hadir langsung di lokasi penanaman, panitia menyediakan alternatif kontribusi melalui pembelian dan retirement unit karbon via Bursa Karbon Indonesia atau kanal resmi yang terhubung dengan sistem perdagangan karbon nasional. Sinergi antara solusi berbasis alam (nature-based solutions) dan instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) ini sekaligus memperluas pembiayaan iklim serta mendorong investasi rendah emisi.

​Paviliun Indonesia: "House of Climate Solutions" di COP31

​Pada perhelatan COP31 UNFCCC, Paviliun Indonesia akan mengusung tema besar: "Indonesia as the House of Climate Solutions: Strengthening Climate Resilience through Collaborative Action and a Strategic Net Zero Pathway.”

​Tema ini merefleksikan posisi strategis Indonesia bukan sekadar sebagai partisipan, melainkan sebagai ruang lahirnya solusi iklim nyata yang berpijak pada kolaborasi dan jalur pencapaian Net Zero Emission. Sebagai bagian dari partisipasi di arena paviliun, panitia juga merencanakan aksi penanaman satu pohon untuk setiap peserta sesi diskusi di sejumlah titik pemulihan ekosistem, seperti Pantai Indah Kapuk, Masigit Kareumbi, Semarang Mangrove Center, serta kawasan konservasi mangrove di Kendal dan Demak.

​Melalui langkah terpadu ini, KLH/BPLH ingin memastikan bahwa diplomasi iklim Indonesia berjalan seiring dengan aksi nyata di lapangan sejak dari tahap persiapan keberangkatan delegasi.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image