Logo

KELANA: Dari Perjalanan Anak Muda, Menemukan Jalan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

14 Agustus 2026 79 Dilihat
KELANA: Dari Perjalanan Anak Muda, Menemukan Jalan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur

Ada perjalanan yang berakhir ketika kendaraan berhenti. Namun, bagi 13 anak muda peserta KELANA—Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda—Java Over Trip, perjalanan justru berlanjut ketika mereka kembali ke rumah.

Menempuh rute Jakarta, Ciamis, Banyumas, Daerah Istimewa Yogyakarta hingga Magelang, mereka tidak sekadar melihat tempat baru. Mereka menyaksikan bagaimana masyarakat mengubah persoalan lingkungan menjadi gerakan, bahkan peluang ekonomi. Dari sampah organik yang menjadi kompos hingga plastik yang diolah menjadi barang berguna, kepedulian terhadap lingkungan ternyata tumbuh dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pengalaman itu menjadi penting di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, kemerdekaan tidak hanya dapat dimaknai sebagai kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, tetapi juga sebagai kemampuan menjaga sumber daya yang menopang kehidupan: air, tanah, udara, pangan, dan lingkungan yang sehat.

Bagi Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), praktik-praktik sederhana yang ditemui dalam KELANA menunjukkan bahwa cita-cita tersebut dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.

Ketika Sampah Menjadi Sumber Daya

Di Ciamis, peserta melihat masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah organik melalui maggot, biopori, dan kompos. Di Banyumas, sampah plastik tidak serta-merta berakhir di tempat pembuangan. Material tersebut diolah menjadi produk seperti plastoblock dan genteng.

Bagi masyarakat, pendekatan semacam ini memiliki manfaat ganda. Sampah berkurang, lingkungan lebih terawat, sementara material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat kembali memiliki kegunaan.

Pengalaman tersebut membuka perspektif Sheryl Dianto Tamto, siswa SMA Kristen Penabur Gading Serpong, Tangerang Selatan. Sebelum mengikuti KELANA, ia mengira kepedulian masyarakat Indonesia terhadap lingkungan masih rendah. Namun, perjalanan membuat pandangannya berubah.

“Banyak juga warga dan komunitas ... yang sangat peduli terhadap lingkungan dan memberikan dampak yang sangat positif,” ujar Sheryl.

Temuan itu memperlihatkan satu hal penting: perubahan tidak selalu menunggu teknologi mahal atau program berskala besar. Memilah sampah dari rumah, membuat kompos, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, atau membuat lubang biopori merupakan tindakan sederhana yang jika dilakukan bersama-sama dapat menghasilkan dampak besar.

Dari Lingkungan, Tumbuh Peluang Ekonomi

KELANA juga memperlihatkan hubungan erat antara lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Syita Kansa menemukan inspirasi ketika mengunjungi TPS 3R Kartini di Ciamis. Di sana, perempuan menjadi penggerak kegiatan pengelolaan lingkungan. Barang yang sebelumnya dianggap tidak terpakai dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berpotensi memberikan nilai ekonomi.

“Semua yang kita pakai sehari-hari itu bisa menjadi peluang juga,” kata Syita.

Perspektif ini penting karena pengelolaan lingkungan bukan semata urusan membersihkan sampah. Jika dikelola dengan tepat, ekonomi sirkular dapat membuka ruang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai suatu material.

Dengan demikian, menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan bukan dua tujuan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Sungai yang Bersih Dimulai dari Warga

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, peserta juga melihat perubahan pada kawasan sungai yang dahulu menghadapi persoalan sampah. Di lokasi yang mereka kunjungi, air tampak lebih jernih dan bebatuan di dasar sungai masih dapat terlihat.

Bagi peserta, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sungai bukan sekadar aliran air. Ia berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat—dari ketersediaan air, kesehatan, hingga kualitas ruang hidup.

Dalam perjalanan di Yogyakarta hingga Magelang, peserta didampingi tim Humas Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa. Mereka juga berjumpa dengan Ananto Isworo, penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan, serta melihat berbagai praktik lingkungan di lapangan.

Kepala Pusdal LH Jawa Eduward Hutapea menilai praktik tersebut merupakan modal sosial yang penting.

“Persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak. Kita membutuhkan kolaborasi dan keteladanan dari masyarakat,” ujarnya.

Merdeka untuk Menjaga Lingkungan

Vicky Titi Sarikosasi Putri, Putri Indonesia Lingkungan 2026 dan Miss International Indonesia 2026, melihat kekuatan KELANA pada pengalaman langsung. Anak muda tidak hanya menerima informasi di ruang kelas, tetapi melihat dan berinteraksi dengan masyarakat yang telah menerapkan gaya hidup berkelanjutan.

Ia mendorong kebiasaan sederhana seperti reduce, reuse, recycle (3R) dan membuat kompos di rumah.

Pesan itu sejalan dengan semangat kemerdekaan. Indonesia yang berdaulat membutuhkan masyarakat yang mampu menjaga sumber daya dan lingkungannya. Indonesia yang adil membutuhkan lingkungan yang sehat dan dapat dinikmati semua lapisan masyarakat. Sementara Indonesia yang makmur membutuhkan pemanfaatan sumber daya secara bijak agar manfaat ekonomi tidak mengorbankan generasi mendatang.

Pada akhirnya, KELANA bukan hanya perjalanan mengenali lingkungan. Ia adalah perjalanan menemukan bahwa perubahan telah tumbuh dari desa, komunitas, sekolah, sungai, tempat pengelolaan sampah, dan rumah-rumah warga.

Dari perjalanan itu, anak muda membawa pulang satu kesadaran: lingkungan tidak membutuhkan manusia untuk terus ada, tetapi kehidupan manusia sangat bergantung padanya.

Maka, menjelang dan dalam semangat HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menjaga lingkungan adalah bagian dari cara kita merawat kemerdekaan itu sendiri.

Dimulai dari rumah. Dilakukan bersama. Konsisten setiap hari.

Sebab Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur juga harus menjadi Indonesia yang mampu menjaga bumi tempat seluruh rakyatnya hidup.

Yogyakarta, 14 Agustus 2026

Penulis: Yustinus Ade Stirman & Danang Budisantoso, Staf Humas Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa 

Editor: Yulianti Fajar Wulandari, Biro Hubungan Masyarakat

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image