Logo

Indonesia Tegaskan Komitmen Wujudkan Udara Bersih Melalui Penguatan Kolaborasi Regional Asia Timur

05 September 2026 47 Dilihat
Indonesia Tegaskan Komitmen Wujudkan Udara Bersih Melalui Penguatan Kolaborasi Regional Asia Timur

Jakarta, 5 September 2026 — Polusi udara kini bertransformasi menjadi ancaman nyata yang mendesak bagi kesehatan publik. Merespons urgensi tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersinergi dengan Jaringan Pemantauan Asam di Asia Timur (Network Center for the EANET) menggelar National Awareness Workshop bertajuk “Understanding Air Pollution and Its Sources, Weather, Climate, and Topography in Indonesia” di Kantor KLH/BPLH Jakarta, Jumat (4/9/2026). Forum strategis ini mempertemukan para pengambil kebijakan, akademisi, dan periset guna merumuskan langkah taktis dan komprehensif dalam mengatasi persoalan kualitas udara di Tanah Air.

​Sekretaris Kementerian LH/Sekretaris Utama BPLH, Rosa Vivien Ratnawati, dalam sambutannya menegaskan bahwa Indonesia telah konsisten menjadi bagian integral dari keluarga besar EANET sejak tahun 1998. Menurutnya, kerja sama regional ini sangat esensial mengingat dampak polusi udara tidak mengenal batas teritorial negara.

“Dengan bergabung bersama EANET, kita bisa saling belajar dan berbagi data. Polusi udara itu kompleks, dipengaruhi oleh urbanisasi, pembangunan industri, hingga cuaca. Kita tidak bisa melawannya sendirian, kita butuh fondasi sains yang kuat dan kerja sama yang erat,” tutur Rosa Vivien. 

​Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Direktur Jenderal Jaringan Pusat EANET, Siwaporn Rungsiyanon, memaparkan perluasan cakupan strategis pemantauan EANET. Selepas dua setengah dekade berfokus pada deposisi asam, EANET kini memperluas mandat operasionalnya secara masif untuk memantau partikel halus (PM 2.5), ozon, hingga senyawa organik volatil (VOC) yang menjadi pemicu utama kabut asap dan krisis kesehatan.

Siwaporn turut menyampaikan komitmen kemitraan yang erat bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan ekologis di kawasan Asia.

“Saya berpikir bahwa kita akan berkooperasi dengan Indonesia di masa depan. Negara-negara maju mungkin tidak mengerti kondisi kita, tapi kita di Asia punya budaya dan masalah yang sama. Kami tahu bagaimana untuk bersama-sama. Kami ingin membangun kapasitas, mendukung generasi muda, hingga memanfaatkan teknologi sensor dan satelit yang lebih terjangkau. Saya berharap kita bisa mengubah masa depan, memiliki udara bersih, tanah bersih, dan air bersih bersama,” jelas Siwaporn penuh antusias. 

​Dari perspektif riset ilmiah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhayatun, memberikan pandangan tajam agar Indonesia proaktif mengambil tindakan preventif tanpa harus menunggu terjadinya krisis ekologis berskala besar. Muhayatun menekankan bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki profil polusi yang unik, seperti kontrasnya kualitas udara di Jakarta, Surabaya, dan kawasan luar Jawa, sehingga perumusan kebijakan wajib berpijak mutlak pada sains dan data empiris.

​“Pengelolaan kualitas udara berdasarkan sains sangat penting. Tanpa memahami sumber polusinya, rencana pengendalian udara tidak akan berhasil. Kita harus tahu dari mana datangnya polutan, bagaimana cuaca dan iklim mempengaruhinya, serta bagaimana intervensi kita benar-benar menyentuh sumbernya secara langsung,” jelas Muhayatun. 

​Melalui forum startegis yang melibatkan 13 negara anggota inisiatif regional EANET ini, pemerintah optimistis integrasi trilogi riset, teknologi, dan kebijakan dapat berjalan selaras untuk menghadirkan tata kelola udara yang presisi, menyehatkan masyarakat, serta berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image
Additional image