Logo

Indonesia Pimpin Kolaborasi Regional untuk Menjaga Kualitas Udara Asia

03 September 2026 216 Dilihat
Indonesia Pimpin Kolaborasi Regional untuk Menjaga Kualitas Udara Asia

Jakarta, 3 September 2026 — Indonesia kembali mengambil peran sentral dalam panggung diplomasi lingkungan hidup regional. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melalui Pusat Sarana Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusarpedal) secara resmi membuka Pertemuan Manajer Teknis Senior (Senior Technical Managers' Meeting) ke-27 Jaringan Pemantauan Deposisi Asam di Asia Timur (EANET). Pertemuan strategis ini diselenggarakan pada 2–3 September 2026 secara multi-lokasi di Tangerang Selatan dan Jakarta.

​Sebagai negara anggota sejak 1998, Indonesia menegaskan komitmen jangka panjangnya dalam memperkuat jejaring pemantauan kualitas udara dan deposisi atmosfer regional.

​Kepala Pusarpedal KLH/BPLH, Sinta Saptarina Soemiarno, menekankan pentingnya forum ini untuk merumuskan kebijakan berbasis sains (evidence-based policy).

​"Indonesia yang telah menjadi anggota EANET sejak 1998 menghargai kerja sama jangka panjang ini sebagai platform penting di bidang deposisi atmosperik dan kualitas udara. Pertemuan ini penting untuk memajukan pemahaman ilmiah, menyelaraskan metodologi pemantauan, dan mendukung pengembangan kebijakan berbasis bukti di seluruh Asia Timur," jelas Sinta.

Ancaman Nyata Polusi Lintas Batas dan PM2.5

​Pertemuan tingkat tinggi ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Parlementer Lingkungan Hidup Jepang, Tomonoh Rio. Kehadirannya menegaskan solidnya komitmen Pemerintah Jepang bersama negara-negara kawasan dalam membendung eskalasi pencemaran udara regional yang kian mengkhawatirkan.

​"Tantangan lingkungan yang dihadapi Asia Tenggara saat ini membutuhkan tindakan segera. Pencemaran udara yang disebabkan oleh PM2.5 dan polutan lainnya merupakan masalah serius, dan pencemaran udara lintas batas negara berdampak pada kesehatan masyarakat di seluruh wilayah," tegas Tomonoh Rio.

​Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Network Center for EANET, Toshimasa Ohara, memaparkan bahwa kawasan Asia Timur menghadapi tekanan berat akibat tingginya tingkat pencemaran udara dan deposisi atmosfer, terutama nitrogen reaktif yang memukul kesehatan manusia serta ekosistem. Toshimasa menggarisbawahi bahwa kekuatan utama EANET selama lebih dari 25 tahun terletak pada konsistensi pengamatan jangka panjang.

​Saat ini, EANET tengah mengimplementasikan Rencana Jangka Menengah yang berfokus pada penanganan ozon, PM2.5, pengelolaan aliran nitrogen, serta pembacaan dinamika meteorologi terhadap sebaran polusi.

Solidkan Tiga Belas Negara Anggota

​Pertemuan ke-27 ini dihadiri oleh delegasi dari 13 negara partisipan, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Jepang, Korea Selatan, Cina, Mongolia, dan Rusia.

​Melalui forum kolaboratif ini, KLH/BPLH berharap seluruh delegasi tidak hanya mampu menyamakan standar teknis pemantauan, tetapi juga mempererat semangat kemitraan kawasan dalam merumuskan solusi nyata menghadapi krisis kualitas udara.

​"Kami berharap pertemuan ini tidak hanya produktif tetapi juga dapat menjadi ajang pertukaran informatif teknis dan memperkuat semangat kemitraan yang selalu menjadi ciri khas EANET," tutup Sinta dengan optimis.

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image