Di sebuah desa di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kehidupan baru tumbuh dari sesuatu yang selama ini kerap dianggap tak bernilai: limbah ternak. Di tangan para peternak, kotoran sapi Bali kini tidak lagi menjadi sumber pencemaran, melainkan berubah menjadi energi bersih untuk memasak, pupuk organik yang menyuburkan lahan, sekaligus solusi nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Transformasi tersebut lahir melalui Proyek Integrated Management of Peatland Landscapes in Indonesia (IMPLI) yang dikembangkan KLH/BPLH bersama para mitra di desa-desa prioritas kawasan bentang alam gambut Musi Banyuasin. Model integrasi peternakan sapi Bali berbasis biodigester–biogas dan Rumah Kompos Berbasis Slurry menjadi contoh bahwa upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah ancaman perubahan iklim, sektor pertanian dan peternakan menghadapi tantangan besar. Selain menjadi penopang ketahanan pangan dan ekonomi pedesaan, sektor ini juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama metana (CH₄) yang dihasilkan dari penguraian limbah ternak. Dalam horizon 100 tahun, metana memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida.
Namun, di Musi Banyuasin, persoalan tersebut justru menjadi peluang.
Setiap hari, limbah dari kandang sapi Bali dialirkan ke biodigester berkapasitas 8 meter kubik. Di dalam reaktor tertutup ini, mikroorganisme mengubah limbah organik menjadi biogas dan bio-slurry. Gas metana yang sebelumnya berpotensi lepas ke atmosfer ditangkap dan dimanfaatkan sebagai energi terbarukan untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, residu hasil fermentasi yang kaya unsur hara diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik melalui Rumah Kompos Berbasis Slurry.
Rumah kompos berukuran 5 × 8,5 meter tersebut dirancang secara khusus dengan area pengomposan padat, ruang pengelolaan slurry cair, sistem drainase, tangki penampung berkapasitas 1.500 liter, serta pompa slurry yang memudahkan distribusi pupuk. Seluruh proses dirancang agar tidak ada sumber daya yang terbuang.
Model ini menjadi wujud nyata penerapan pertanian rendah emisi (Low Emission Agriculture/LEA) sekaligus ekonomi sirkular. Hijauan pakan dimanfaatkan untuk ternak, limbah ternak diolah menjadi energi dan pupuk, kemudian pupuk dikembalikan ke lahan pertanian untuk menghasilkan hijauan pakan yang baru. Sebuah siklus tertutup yang menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.
Pendekatan ini juga memiliki arti penting bagi bentang alam gambut Musi Banyuasin. Sebagai salah satu ekosistem penyimpan karbon terbesar di Indonesia, gambut membutuhkan pola pengelolaan yang mampu menjaga fungsi ekologisnya tanpa menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap LPG dan kayu bakar, pemanfaatan biogas juga membantu menekan pengeluaran rumah tangga peternak. Sementara penggunaan pupuk organik berbasis bio-slurry meningkatkan kandungan bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mengurangi kebutuhan pupuk sintetis, dan mendukung produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Keberhasilan model ini tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat. Melalui Proyek IMPLI, kelompok peternak memperoleh pendampingan teknis, pelatihan pengoperasian biodigester, pengolahan pupuk organik, hingga penguatan kelembagaan agar seluruh fasilitas dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.
Bagi KLH/BPLH, praktik baik di Musi Banyuasin menjadi bukti bahwa target penurunan emisi dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC) Indonesia dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di desa-desa prioritas IMPLI, limbah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah proses produksi. Ia menjadi awal dari siklus kehidupan baru—menghasilkan energi, menyuburkan tanah, menguatkan ekonomi keluarga, sekaligus menjaga iklim. Dari kandang sapi Bali di Musi Banyuasin, lahir sebuah pesan sederhana namun bermakna: masa depan rendah emisi bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang cara manusia belajar hidup selaras dengan alam.
Musi Banyuasin, 27 Juli 2026
IMPLI Project, Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (PPEG)