Logo

Bogor Raya Bersiap Ubah Sampah Jadi Listrik, Menteri LH: Pengelolaan dari Tingkat Tapak Tak Boleh Berhenti

18 September 2026 178 Dilihat
Bogor Raya Bersiap Ubah Sampah Jadi Listrik, Menteri LH: Pengelolaan dari Tingkat Tapak Tak Boleh Berhenti

 

Bogor, 17 September 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) turut mengawal peresmian pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, yang diselenggarakan oleh Danantara Indonesia bersama para pemangku kepentingan terkait pada Kamis (17/9/2026 2026). Peresmian Proyek Strategis Nasional (PSN) bernilai investasi Rp2,8 triliun ini menandai langkah konkret dalam mengatasi darurat sampah perkotaan berbasis teknologi ramah lingkungan.

 ​Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa pembangunan PSEL Bogor Raya 1 yang ditargetkan rampung dalam waktu maksimal dua tahun harus diiringi dengan penanganan sampah yang berjalan secara kontinu. Mengingat fasilitas baru ini baru akan beroperasi penuh pada pertengahan 2028 dengan kapasitas mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari, persoalan harian di lapangan tidak boleh diabaikan begitu saja.

 ​"Persoalannya adalah dari sekarang sampai dua tahun, sampah jalan terus. Khususnya sampah organik yang menimbulkan bau dan sebagainya, itu juga akan jalan terus," tutur Menteri Jumhur dalam peresmian pembangunan PSEL Bogor Raya 1.

 ​Oleh karena itu, KLH/BPLH terus mengarahkan agar penanganan sampah tetap dilakukan secara berkelanjutan selama proses konstruksi berlangsung, serta memastikan persoalan sampah di berbagai daerah yang belum memiliki fasilitas PSEL dapat diselesaikan secara bertahap hingga tahun 2029.

 ​Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa persoalan sampah merupakan situasi darurat yang harus segera diselesaikan. Regulasi yang sebelumnya rumit dengan sekitar 160 aturan kini telah dipangkas menjadi tiga saja agar proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat berjalan lebih cepat dan langsung bermanfaat bagi masyarakat.

 ​Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, turut mengungkapkan bahwa proyek ini dirancang untuk memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan ekonomi lokal. PSEL Bogor Raya 1 ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun, menurunkan emisi dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 80 persen, serta mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton setara CO_2 per tahun.

 

​Tantangan Nasional dan Keterbukaan Teknologi Pengolahan

​Menteri Jumhur mengungkapkan bahwa cakupan proyek PSEL saat ini baru menjangkau sekitar 60-an kabupaten/kota di Indonesia. Sementara itu, masih ada sekitar 470 kabupaten/kota lain yang membutuhkan penanganan dan pengelolaan sampah secara serius sebagai tanggung jawab bersama.

​Dalam menghadapi tantangan tersebut, pemerintah membuka peluang lebar bagi pemanfaatan berbagai macam teknologi pengolahan sampah yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan lokal masing-masing wilayah. Pengelolaan sampah tidak harus selalu diubah menjadi energi listrik, melainkan dapat dikembangkan melalui beragam inovasi, terutama untuk fasilitas dengan kapasitas di bawah 1.000 ton.

 "Berbagai teknologi kita welcome. Yang tidak harus menjadi listrik, tapi bisa menjadi pirolisis, solar, menjadi RDF, menjadi green coalpelletizing seperti batubara, dan sebagainya," jelas Menteri Jumhur saat memberi sambutan kuncinya.

 

 ​Sinergi Proyek Strategis Nasional di Galuga

​Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan amanat Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, PSEL Bogor Raya 1 dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator yang dilengkapi dengan Air Pollution Control System (APCS) serta mengacu pada standar emisi internasional European Union Industrial Emissions Directive (EU IED). Proyek ini juga diiringi dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) bersama PT PLN (Persero).

 ​Selain menghadirkan solusi lingkungan untuk menekan emisi dan mengurangi volume sampah secara signifikan, kehadiran PSEL Bogor Raya 1 turut diproyeksikan sebagai pusat riset teknologi dan inovasi pengelolaan sampah terintegrasi, serta membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau bagi masyarakat lokal.

 ​Kehadiran PSEL Bogor Raya 1 memang menjadi angin segar dalam menuntaskan persoalan timbunan sampah perkotaan di hilir. Namun, KLH/BPLH terus mengingatkan bahwa penyelesaian tuntas sampah nasional tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas pembakar akhir. Penguatan dari hulu melalui gerakan pemilahan sampah rumah tangga, pengaktifan bank sampah, serta kesadaran kolektif masyarakat untuk mengurangi sampah tetap menjadi kunci utama agar ekosistem lingkungan yang bersih dan berkelanjutan dapat tercapai secara menyeluruh.

 

 

 

 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image