Bali, 21 Oktober 2026 — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendukung kegiatan kunjungan lapangan para delegasi 11th GEF International Waters Conference (IWC-11) untuk mempelajari berbagai praktik konservasi dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di Bali, Selasa (20/10/2026). Kunjungan ini menjadikan Bali sebagai ruang pembelajaran mengenai pengelolaan ekosistem perairan, mulai dari pelestarian keanekaragaman hayati laut, pemulihan kawasan bakau, pelindungan penyu, hingga penerapan ekonomi sirkular dalam penanganan sampah plastik, yang didukung oleh keterlibatan masyarakat serta kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan ini sejalan dengan pesan Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, saat membuka IWC-11 pada Senin (19/10/2026). Menteri Jumhur menegaskan pentingnya mencegah pencemaran sejak dari sumbernya sebelum berdampak pada ekosistem pesisir dan laut.
“Kita harus menghentikan pencemaran dari sumbernya, baik itu di kawasan perkotaan, industri, maupun sungai, sebelum mencapai ekosistem pesisir dan laut,” tegas Menteri Jumhur.
Melalui kunjungan lapangan ini, para delegasi berkesempatan melihat bagaimana pendekatan konservasi, inovasi pengelolaan sampah, dan keterlibatan masyarakat diterapkan secara langsung. Praktik-praktik tersebut menjadi bahan pembelajaran bersama mengenai pentingnya menghubungkan perlindungan lingkungan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat, termasuk pengetahuan dan nilai-nilai lokal yang tumbuh dari hubungan masyarakat dengan alam di sekitarnya.
Menyaksikan Langsung Pemulihan Ekosistem dan Pelindungan Biota
Perjalanan para delegasi mancanegara bermula di Pusat Kunjungan Coral Triangle Center, tempat mereka mempelajari strategi pelestarian laut di kawasan Segitiga Terumbu Karang. Rombongan kemudian mengunjungi kegiatan konservasi bersama para penjaga bakau untuk melihat peran ekosistem pesisir dalam melindungi garis pantai, menjaga habitat biota, sekaligus mendukung penghidupan masyarakat setempat.
Upaya menjaga kawasan bakau juga memperlihatkan pentingnya hubungan antara masyarakat dan lingkungan yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan masyarakat mengenai kondisi pesisir, cara merawat lingkungan, serta pemanfaatan sumber daya alam secara bijak merupakan modal penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang dapat memperkuat upaya konservasi, sehingga pelestarian alam tidak hanya bertumpu pada pendekatan ilmiah dan teknologi, tetapi juga pada pengalaman serta kepedulian masyarakat setempat.
Kunjungan berlanjut ke Pusat Konservasi dan Edukasi Penyu. Di lokasi ini, para delegasi mempelajari berbagai upaya penyelamatan, perawatan, dan edukasi untuk melindungi penyu. Praktik tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan dukungan program konservasi sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat.
Berbagai inisiatif tersebut menjadi contoh pembelajaran mengenai bagaimana perlindungan ekosistem dapat dijalankan dengan melibatkan masyarakat, memperhatikan kondisi lingkungan setempat, serta mempertimbangkan keberlanjutan dalam jangka panjang.
Mengubah Sampah Plastik Menjadi Solusi Bernilai Ekonomi
Pembelajaran mengenai pengendalian pencemaran berlanjut melalui kunjungan ke Pusat Komunitas Sungai Watch. Di lokasi ini, para delegasi mengamati penggunaan penghalang sampah di aliran sungai untuk menangkap sampah sebelum terbawa menuju laut. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah untuk menentukan material yang dapat diolah dan dimanfaatkan kembali.
Perjalanan berlanjut ke Sungai Design, tempat para delegasi melihat bagaimana material plastik hasil pengumpulan dan pemilahan tersebut diolah menjadi furnitur siap pakai yang memiliki nilai ekonomi dan dipasarkan secara komersial. Salah satu produk yang diperkenalkan adalah kursi yang menggunakan material setara dengan sekitar 2.000 kantong plastik.
Praktik ini menunjukkan bagaimana upaya mencegah pencemaran dapat terhubung dengan penerapan ekonomi sirkular. Sampah plastik yang semula berpotensi mencemari sungai dan laut dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengembangan produk bernilai tambah.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari perwakilan Arafura and Timor Seas Ecosystem Action (ATSEA), Casandra Tania. “Menurut saya, ini merupakan contoh yang sangat baik dari inovasi dan penciptaan mata pencaharian. Menarik melihat bagaimana usaha ini berkembang dari skala kecil dengan model bisnis yang baik,” tutur Casandra.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penanganan sampah dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Melalui rangkaian proses dari pengumpulan dan pemilahan hingga pengolahan menjadi furnitur yang dipasarkan, sampah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai limbah, tetapi juga sebagai material yang dapat dimanfaatkan kembali secara produktif.
Sinergi Global yang Berakar dari Kesadaran Individu
Rangkaian kunjungan lapangan ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan keterpaduan upaya dari daratan hingga laut, dengan dukungan pemerintah, komunitas lokal, dunia usaha, dan masyarakat. Selain inovasi teknis, pengetahuan masyarakat dan kearifan lokal juga berperan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Kedekatan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal dapat menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab untuk merawat alam serta mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Perwakilan Caribbean Biodiversity Fund (CBF), Rachel R., menekankan pentingnya membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui perubahan perilaku setiap individu.
“Saya berharap kita semua sebagai manusia dapat semakin peduli terhadap lingkungan dan alam di sekitar kita. Kita perlu mengubah perilaku, lebih menghargai apa yang kita miliki, serta meningkatkan upaya pelestarian lingkungan yang dimulai dari diri kita masing-masing,” ungkap Rachel R.
Melalui IWC-11 yang berlangsung di Bali pada 19–22 Oktober 2026, Indonesia turut membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan perairan berkelanjutan. Berbagai praktik yang dipelajari para delegasi menunjukkan bahwa perlindungan sungai, pesisir, dan laut membutuhkan perpaduan antara inovasi, kolaborasi lintas negara, keterlibatan masyarakat, serta kearifan lokal. Dengan memadukan pengetahuan ilmiah dan pengalaman masyarakat dalam menjaga lingkungannya, upaya pelestarian diharapkan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.